Virus Corona: Dari Seorang Warga Awam

Tiga minggu ini makin resah mengikuti perkembangan Virus Corona di media sosial.

Hari ke hari terasa makin dekat dan nyata.

Dari awal sayup-sayup di Wuhan, lalu sekilas mengikuti perkembangan di Iran, mendengar upaya-upaya yang berlangsung di Korsel, Jepang, dan Singapura. Mulai heboh di Italia, meledak di Spanyol, lalu menyadari bagaimana tidak siapnya Amerika.

Tidak panik, tapi terobsesi. FOMO.

Indonesia

Dari awal yang “gila lah denial banget, mana mungkin kita nggak ada kasus positif, wong kiri kanan ramai dan kita di tengah2 kejadian“. Mengikuti semua desas-desus.

Lalu akhirnya kasus positif pertama diumumkan. Orang ramai memborong masker dan bahan makanan. Lalu kasus rentetan pelan-pelan diungkap. Tapi masih orang yang tidak saya kenal dan di wilayah yang “bukan urusan saya”. Lalu mulai ada yang dilaporkan meninggal. Lalu Menteri Perhubungan dikabarkan positif Covid-19.

Sampai 3 hari lalu saya mulai dapat kabar kasus positif yang bersinggungan langsung dengan orang yang saya kenal pribadi.

Hanya bisa melihatnya bergerak semakin dekat tapi merasa tidak berdaya. Ingin membantu tapi tidak tahu harus bagaimana.

Dan saat ini tanggal 18 Maret 2020 mendekati pukul 23:00 sudah ada 19 kasus kematian akibat Virus Corona terkonfirmasi di Indonesia. Angka tertinggi di Asia Tenggara, dan persentase kematian 8.27% — tertinggi di dunia. Saya tidak begitu panik karena saya yakin ini hanya karena banyak kasus yang belum terdeteksi dan dikonfirmasi. Kita baru mulai.

Hai

Saya bukan pakar masalah kebijakan publik, ilmu medis, maupun bidang ekonomi. Saya hanya ingin berbagi pikiran dan perasaan sebagai orang awam yang hidup di Jakarta.

Saya berharap ini bisa sedikit membuat teman-teman merasa tidak sendirian dalam krisis ini. Bukan cuma kita yang bingung. Bukan cuma kita yang resah. Bukan cuma kita yang merasa gagal.

Saya juga ingin membagikan apa yang saya amati dan pelajari sepanjang perkembangan pandemi ini. Hal-hal yang mengusik dan menarik.

Sedikit latar belakang, saya saat ini bekerja di sebuah perusahaan IT yang berpusat di Irlandia secara sistem KDR (Kerja Dari Rumah) dan banyak mendapatkan cerita dari rekan kantor dan media sosial yang mayoritas sumbernya adalah berita teknologi dan bisnis dari Amerika dan Eropa.

Saya tidak akan membahas tips, fakta, atau update tentang Virus Korona karena banyak sekali materi berkualitas yang sudah dibuat dan disebarluaskan dengan sangat baik oleh kawan-kawan media dan relawan-relawan kredibel seperti kawalcovid19.id, narasi.tv, tirto.id, kumparan.com, dan asumsi.co.

Dan saya yakin kita semua sebenernya paham kok apa yg seharusnya dilakukan. Konkret-nya gimana. Apa itu penyakit COVID-19, apa gejalanya, apa resiko dan bahayanya, apa efek jangka pendek dan panjangnya. Apa bedanya karantina, isolasi, dan jaga jarak mandiri. Cara cuci tangan yang benar, butuh masker yang seperti apa, tips cara bekerja dari rumah, dan lain sebagainya.

Cuma bingung, ini apa yang sedang terjadi sih? Seserius apa? Apa yg mesti dipersiapkan? Untuk waktu berapa lama? Ke depannya gimana? Bakal separah apa? Kapan bakal reda? Trus sekarang mesti ngapain?

Kita tahu sebaiknya Kerja Dari Rumah, sebaiknya jaga jarak mandiri, sebaiknya tidak memborong dan menimbun. Tapi mana bisa? Kantor blm ada kebijakan, tetap harus naik angkutan umum, kalo nggak beli sekarang ntar kehabisan atau mahal gimana? Sebagai pemilik perusahaan kita tahu sebaiknya meliburkan, tetap menggaji karyawan, dan melaksanakan containment. Tapi ya sampai kapan? Kalau gulung tikar malah terpaksa PHK. Di luar negeri juga sama.

Kita juga tahu idealnya Pemerintah harus memprioritaskan pencegahan penyebaran, mempersiapkan kapasitas fasilitas medis yang memadai untuk menghindari kewalahan yang akan menentukan resiko kematian, dan terus mengembangkan kemampuan untuk melakukan test secara massal — sambil membuat dan mengeksekusi kebijakan publik secara efektif dan CEPAT.

Kita tahu tindakan yang rasional tapi realita itu kompleks dan irasional.

Gregetan

Pas baca penduduk US, UK, atau Italia menganggap pemerintahannya lamban, tidak transparan, tidak serius, coba-coba dalam menangani pandemi, saya cuma mikir “wah, ngaco ya“. Masih santai.

Tapi setiap kali membaca komentar serupa di Indonesia, saya gregetan dan terusik.

Kebodohan ini bukan hanya terjadi di Indonesia.

Italia sendiri tidak belajar dari pengalaman Cina dan Korea Selatan.

Spanyol tidak belajar dari pengalaman Italia. Prancis juga masih santai.

Amerika tidak belajar dari pengalaman Italia, Spanyol, UK, dan Belanda.

Dan Indonesia tidak belajar dari pengalaman semua negara.

Semua negara meremehkan, lumpuh, bengong, kagok, blunder. Meski banyak sekali peringatan, himbauan, dan permohonan berserakan. Bahwa ini serius, ini lho langkah2nya, cara apa yang berhasil, cara apa yang salah, dll. Beda pemerintahan tentu beda resep tapi trus seharusnya gimana?

Kita telat bergerak karena manusia rentan hal yg memiliki karakteristik berikut:

  1. tidak kasat panca indera (belum “nyata”)
  2. tidak ada umpan balik segera (nggak langsung “ngefek”)
  3. eksponensial (pikiran kita linear)
  4. bertentangan dgn kepercayaan dan bias yang kita pegang

Seperti orang yang tau itu tsunami, melihat ombak datang, tapi tidak lari.

Kalau kemarin itu bentuknya bom di Wuhan, Italia, dan Spanyol, semua orang pasti langsung tanggap. Tapi ini pelan-pelan menyergap.

Dan itu normal kah? Kita semua tahu menjaga kesehatan ya dengan makan sehat, olahraga, tidur cukup. Tapi realitanya berapa banyak yang menjalankan?

Pelajaran ribuan tahun dari COVID19.

Hal yang segera dan pasti (nyata) akan dihindari oleh manusia & negara meski dampaknya sedang-sedang saja.

Dan (mereka) lebih berani mengambil resiko untuk hal yang jauh dan belum pasti meskipun dampaknya jauh lebih besar.

Ada keuntungan yang sangat besar dapat dipetik oleh mereka yang mampu menghalau bias yang melekat di diri manusia ini.


Naik darah baca cerita orang-orang ngeyel

Awalnya saya menghujat pasien yang diberitakan kabur dari RS Persahabatan. Saya pikir ya ampunn, kok gini amat orang Indonesia. Tapi lalu saya dengar cerita serupa dari mancanegara.

Bagi saya, wanita tengil ini pemenangnya:

Di antara manusia-manusia ini

Tentu di balik semua kasus “aduh emejing” ini ada konteks yang tidak kita pahami atau diliput (dan dipilah) media. Masing-masing individu punya situasi sendiri. Everyone is doing the best they can with what they think they have.

Tapi manusia ya kadang konyol. Egois, tidak bertanggung jawab, dan irasional.

Menganggap remeh. Karena memang ini sesuatu yang belum “terasa” sampai ada di depan mata.

Atau sungkan, tidak enak masa tidak datang ke resepsi, ke rumah duka, nanti dibilang lebay…

Tentu ini semua lalu bukan pembenaran karena: Kenapa Kita Tidak Bisa Lebih Baik?

Yah, gimana ya. Saya juga nggak tau hehehe.

Intinya: Saya yakin kita semua tahu mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa ditunda. Mari kaji ulang prioritas kita, hindari dulu keramaian. Tentu tidak memungkinkan untuk 100% melakukan isolasi diri tanpa mencari nafkah dan aktivitas bertahan hidup, tapi coba lah.

Terakhir, sedang ramai thread ini dimana terungkap perusahaan-perusahaan Amerika yang sebenarnya bisa menjalankan WFH/KDR tapi tetap tidak melakukannya secara serius.

Munafik ? Rumit? Entahlah. Yang pasti ini menarik.


Salah siapa?

Kita dengar keresahan dan ketidakpuasan dengan penanganan sejauh ini.

“Tidak transparan, tidak tegas, kurang sigap, kurang persiapan, tidak terkoordinasi, tidak serius”. A, b, c, d, sampe z.

Ya saya nggak mau bahas satu-satu karena ya…. memang benar kita sempat gagal di situ.

Bagi saya pribadi, yang paling fatal dan sebenarnya bisa dihindari ya bagian yang tidak transparan.

Agak terusik dengan ramainya promosi bidang pariwisata pada minggu akhir Februari tersebut, dan terkesan tidak tanggap padahal sudah diperingatkan dan ditawari bantuan.

Tapi saya tersadar betapa banyak pemerintahan yang sama fail-nya. Meremehkan, sombong, dan lamban. Makanya bisa sampai jadi pandemi.

“Unfortunately we have nothing like that level of information quantity, transparency, precision, and sense of responsibility here. Lots of ppls entirely dismissive of the threat, judging by a lot of the tweets (and associated likes) I see here and the lines at bars”

Itu bisa merujuk ke negara manapun.

Sampai tanggal 28 Februari, negara Asia Tenggara masih senyap. Bahkan menurut rekan di India, mereka sampai saat ini belum memberlakukan pembatasan sosial secara resmi. Dan ini negara dengan populasi 1.3 Miliar manusia.

Hanya ada beberapa negara yang sudah sukses sigap mengimplementasikan solusi karena satu dan lain faktor pendukung.

BTW ini semua pengamatan dan hipotesa saya saja dari permukaan. Tolong sangat untuk dikoreksi dan didiskusikan.

Selain masalah transparansi, cara komunikasi yang kurang profesional, dan kurang inisiatif jemput bola, sisanya saya yakin: tidak sesederhana itu.

Semua orang juga tahu “seharusnya begini seharusnya begitu“. Sebagai rakyat tentu berharap melihat negara mampu melindungi dan berjuang bagi kita. Dan itu memang hak warga negara. Tapi menjalankannya… tidak semudah itu Ferguso.

Kalau dari sisi tanggung jawab warga negara? Kalo yang pernah kerja kelompok, manage tim, mikirin karyawan, bahkan ngurus jalan2 sama temen atau keluarga pasti tau: ngurus manusia tuh DOH AMPUN.

Apalagi manusia emang pada dasarnya ngeyel, males, dan egois. Sukanya protes dan menuntut.

Tapi kenapa kita tidak bisa?? Kan ada kuasa, aturan, undang-undang, dana, sumber daya, kenapa nggak gerak…

Yah… ah sudahlah… saya juga tidak tahu karena saya tidak berada di posisi itu.


Apa yang akan terjadi?

Saya nggak tau, tapi dari semua yang saya baca dan nalarkan sejauh ini:

Efek jangka pendek

Terjangkit. Entah di gelombang ini atau gelombang-gelombang berikutnya.

Hampir kita semua akan kena virus ini cepat atau lambat. Hanya saja sebaiknya tidak kena ketika fasilitas medis sedang kewalahan.

Memang katanya hanya 10-15% dari kasus positif akan butuh dirawat di RS. Memang katanya hanya 5% dari kasus kritis akan meninggal. Tapi itu juga lumayan kan.

Sejauh yang saya tahu, lockdown adalah opsi terakhir ketika usaha pengendalian penyebaran sudah gagal. Upaya pengendalian penyebaran (containment) dilakukan melalui

  1. testing massal, dan
  2. pembatasan sosial

Dan saya rasa kita sudah melampaui batas itu. Saat ini kita belum di titik lockdown, tapi 2 hari belakangan ini Amerika, Kanada, Malaysia baru mulai melakukannya. Dan saya rasa lebih cepat lebih baik. Lebih baik menanggung sakit jangka pendek daripada jangka panjang.

Berdasarkan data pertumbuhan kasus dan timeline (trajectory-nya serupa di negara manapun), kita paling tidak sudah 15 hari di belakang Itali. Kalau mau tau bagaimana proyeksi masa depan kita, paling dekat lihatlah Amerika yang sedang kelabakan dan baru mulai transparan.

Fasilitas medis yang kewalahan. Menjadi bola salju. Saya hanya berharap ketika gelombang berikutnya dari virus ini datang, kita sudah lebih siap.

Sekolah dan fasilitas publik ditutup sementara. Orang tua kewalahan mengurus anak sambil tetap harus bekerja. Aktivitas normal terganggu.

Saat ini kita juga mulai melihat negara-negara yang sudah berhasil mengendalikan virus ini mengulurkan tangan untuk menolong negara-negara lainnya.

Dan yang saya khawatirkan: mudik lebaran.

Jangka waktu: entah, 3-6 bulan?

Efek jangka menengah

Nah efek yang lebih besar dibanding penyakit adalah dampaknya ke ekonomi. Saya yakin kekhawatiran ini sudah ada di pikiran kita semua.

Sektor informal, UMKM, mitra layanan online / on-demand, buruh dengan upah harian sudah merasakan imbasnya.

Logikanya, industri pariwisata, makanan & minuman, hiburan, musik, dan olahraga akan lesu sementara. Industri delivery dan on demand terdongkrak sementara.

Di negara yang sudah lebih duluan terperosok lebih dalam di krisis ini, mulai ada perampingan dan usaha yang gulung tikar. Saya hanya berharap keputusan bail out perusahaan apapun dikaji dengan sangat hati-hati untuk menghindari gulungan ombak yang lebih besar.

Untuk keuangan pribadi, perencana keuangan Ramit Sethi menganjurkan untuk menyiapkan tabungan untuk 12 bulan ke depan. Prioritaskan kebutuhan primer. Tunda atau negosiasikan cicilan yang sedang berjalan. Investasikan hanya dana yang tersisa. Pegang dana sekarang lebih baik dibanding mengharapkan dana ke depan.

Saya tidak akan membahas bursa saham dan pasar modal karena kompleks dimana sistem saling terhubung mempengaruhi, bukan ranah saya, dan sepertinya hanya Tuhan dan Bandar yang tahu. Tapi sentimen takut dan ketidakpastian pasti yang mendorong pasar semakin bearish (self fulfilling prophecy. sama seperti panic buying akan membuat demand semakin naik dan semakin langka). Mungkin belum saatnya untuk mengambil keputusan “all-in” atau “all-out” sekarang.

Mungkin secara fundamental tidak akan ada yang rusak permanen, hanya saja saat ini fokus negara-negara di dunia sedang terdistraksi. Tertahan. Darurat.

Begitu ada pelambatan dalam hal apapun tentu butuh waktu dan sumber daya lebih untuk mendobrak inersia menggerakkan kembali ke kecepatan sebelumnya. Dan ketika sesuatu yang berjalan mendadak berhenti atau melambat, pasti ada gesekan atau ada yang lebam-lebam.

Yang saya khawatirkan adalah upaya, kebijakan, dan stimulus untuk menggerakkan kembali ekonomi ke momentum sebelumnya kalau tidak matang justru yang akan pelan-pelan membuat “kerusakan” ini (efek jangka panjang).

Ekspor impor bagaimana ya? Seharusnya tidak perlu terpengaruh ya karena penyebaran virus kan kontak manusia. Cukup pembatasan bepergian saja. Tapi mungkin cost akan naik sementara karena bahan bakar dan bahan baku yang diimpor naik di tengah ketidakpastian pasar. Ada yang bisa memberi pandangan?

Efek sosial dan keamanan? Saya bukan cenayang tapi mudah-mudahan kita cukup matang untuk tidak terseret membiarkan sampai ada goncangan di aspek ini.

Jangka waktu: entah, 6-12 bulan?

Lalu kita bisa ngapain ya untuk membantu? Mungkin yang paling nyata adalah dengan mengubah pola konsumsi kita, mendukung usaha lokal agar tetap hidup. Banyak ide kreatif yang bisa dicoba.

Beberapa contoh konkret lainnya yang inspiratif dan mungkin memberikan ide untuk berkontribusi

  • Produsen parfum akan memproduksi pembersih tangan (tautan)
  • Membuat ventilator dengan 3D printing (Italia) (tautan)

Efek jangka panjang

Resesi?

Stimulus ekonomi -> hutang -> bubble ?

  • Rencana untuk bantuan tunai saat ini digaungkan di Amerika. Sejumlah uang akan diberikan per kepala untuk bisa bertahan tetap di rumah, dan ke perusahaan untuk bertahan hidup menghindari PHK dan gulung tikar. Banyak pertimbangan yang terlibat dari masalah metode pemberian (kas, kredit pajak, pinjaman tanpa bunga, beberapa di antaranya), sampai siapa yang berhak. Rumit.
  • Spanyol menasionalisasikan Rumah Sakit privat di sana.

Yang pasti, masing-masing kebijakan ini akan berdampak ke ekonomi makro. Alokasi dana pemerintahan-pemerintahan di dunia. Perputaran uang, inflasi, hutang, cashflow.

Mudah-mudahan semua kebijakan dikaji secara matang dengan segala konsekuensinya. Tidak kebayang beban pikiran para pengambil keputusan publik ini.

Jangka waktu: entah, 1-5 tahun??

Mudah-mudahan tidak separah itu karena pondasi ekonomi kita kelihatannya sehat. Tapi ingat, ini bukan hanya Indonesia. Ekonomi seluruh dunia akan mengikuti pola yang kurang lebih sama. Siap-siap keseret ombak kiri kanan.

Krisis ini kemungkinan juga akan mengubah peta dan dinamika politik global.

Berubah jadi bagaimana? Saya nggak tau. Berharap sekali bisa ngobrol dan berdiskusi dengan teman-teman tentang hal ini.

Kenapa kita harus optimis?

Kalau udah mentok di dasar jurang ya arahnya cuma bisa naik.

Kurva masih bisa dikembalikan

Satu minggu setelah Italia memberlakukan lockdown nasional (8 hari setelah lockdown wilayah Utara awal pusat wabah), jumlah kasus baru di Italia tetap sama selama tiga hari. Artinya 5 hari setelah lockdown jumlah kasus menjadi rata, konsisten dengan masa inkubasi umum yaitu 3-5 hari.

Vaksin

Ada harapan untuk vaksin dan pelambat penyebaran virus meski selalu ada yang belum sempurna.

Dengan skala pandemi yang terjadi kali ini, mudah-mudahan ada insentif / dorongan lebih yang akhirnya bisa mematahkan kegagalan kita dalam menemukan vaksin untuk SARS dan MERS setelah satu dekade. Mungkin kemarin itu terbentur kendala pendanaan, kendala etika medis, ataupun kendala politik yang saya tidak paham juga.

Mudah-mudahan kali ini bisa didobrak dengan tambahan faktor power of kepepet dimana semua orang butuh dan diuntungkan. Supaya bisa fokus menyampingkan kepentingan pribadi untuk sementara waktu (meski realistis aja, ujung2nya pasti tercemar kepentingan hehehe).

Bisa karena terbiasa

Berapa banyak orang yang jadi melek smartphone, powerbank, dan GPS berkat disrupsi ojek online dan layanan on-demand?

Berapa banyak orang yang belajar berjualan online dan berwirausaha sejak adanya marketplaces dan platform media sosial?

Berapa banyak orang yang terbiasa cashless sejak adanya e-money dan e-wallet?

Berapa banyak orang yang sudah memiliki rekening bank berkat teknologi-teknologi ini?

Berapa banyak peluang dan dampak yang terasa dengan adanya ekosistem-ekosistem baru ini?

Semakin banyak ekosistem semakin banyak komponen. Semakin banyak komponen semakin banyak masalah. Semakin banyak masalah semakin banyak peluang.

Krisis ini memperkenalkan lebih banyak orang pada infrastruktur komunikasi digital. Belajar dan mengajar secara virtual. Bekerja dan berkolaborasi secara jarak jauh. Mengajar les, memberi konsultasi, membuka kelas.

Pergeseran perilaku akan sedikit banyak terjadi. Kalaupun tidak segera dan selamanya, paling tidak sudah pernah kenalan. Tak kenal maka tak sayang.

Tidak muluk-muluk, tidak akan mungkin diadopsi menyeluruh tapi paling tidak ini akan jadi momentum untuk bergerak lebih dekat ke tipping point. Meningkatkan produktifitas, mengurangi polusi, mengurangi stress berkendara.

Industri yang mungkin bisa tumbuh

  • wearables, health tech
  • digital conferencing
  • permintaan atas handphone anti air naik, hehe

Ini membuka banyak variasi kesempatan baru yang tak terbatas lho asal kita kreatif. Terjun karena terpaksa. Kena PHK lalu membuka usaha sendiri. Nggak akan mudah di tengah kelesuan krisis yang mungkin terjadi, tapi pantas diperjuangkan.

Ditempa menjadi lebih kuat

Pernah dengar konsep antifragility? Sebuah sistem disebut antifragile ketika setiap goncangan membuat sistem tersebut menjadi lebih kuat. Misal setelah kena cacar, tidak kena lagi. Misal setelah sering mengangkat beban, otot kita berkembang untuk mengakomodasi beban yang lebih berat lagi.

Dengan terpaan virus ini, mudah-mudahan setiap komponen dunia bisa “level up“. Lebih banyak orang yang paham sanitasi, mengadopsi kebiasan higienis, dan mungkin mendapatkan vaksinasi sejak awal. Kebijakan yang perlu dibuat akan serius dipikirkan dan dirampungkan, fasilitas yang perlu dibuat akan disiapkan, dan sistem yang rusak bisa ditanggalkan.

Belajar dari pengalaman.

Bumi rehat sejenak

Di balik semua krisis ada hikmah dan kesempatan bertumbuh. Dunia berputar terus.

  • https://www.nbcnews.com/science/environment/coronavirus-shutdowns-have-unintended-climate-benefits-n1161921
  • https://www.trtworld.com/life/is-coronavirus-inadvertently-cleaning-our-planet-34496

OK trus sekarang gimana?

Kalau sudah muak, tidak ingin mengikuti berita atau informasi lainnya, video ini berisi semua yang perlu kita tahu tentang krisis ini. Jelas, tegas, praktis:

Tarik napas, lakukan sebisa kita, dan berempatilah. Ketahuilah bahwa kita semua tengah berusaha sebaik-baiknya dengan keterbatasan kita sebagai manusia dan sebagai bagian dari sistem.

Ketahuilah bahwa kita akan baik-baik saja.

Mungkin reaksi kita berlebihan? Bisa sembuh sendiri (cek replies-nya juga), tidak semua harus ke RS, dan resiko kematian dipengaruhi banyak faktor. Meski banyak yang masih harus kita cari tahu. Tapi angka yang masuk terakhir dari Italia cukup mencemaskan

Dan di atas kertas, Indonesia cukup riskan. Saat ini angka kematian kita tertinggi di Asia Tenggara. Dan ini tragedi yang mudah-mudahan dapat segera dikendalikan.


Kalau mau jujur dari hati paling dalam, kita semua juga tau bahwa tidak ada gunanya nyari siapa yang salah, siapa yang seharusnya begini begitu.

Kita cari kambing hitam, lempar tanggung jawab, dan cari pegangan karena kita takut dan kecewa. Dan itu wajar.

Tapi apakah kita yakin ada yang bisa menangani dengan lebih baik? Janji dan ide itu mudah. Kepemimpinan dan eksekusi tidak sesederhana itu.

Semua orang serba salah. Karyawan serba salah, perusahaan serba salah, pemerintah serba salah. Semua orang sedikit banyak akan merasakan ketidaknyamanan. Semua orang sedikit banyak harus berkorban.

Harus tegas harus tega harus siap konsekuensinya, dan sabar.

Ini kesalahan sistemik. Bukan cuma rumahmu, kantormu, atau negaramu. Ini kegagalan seisi dunia.

Bukan cuma kita yang bingung. Bukan cuma kita yang resah. Bukan cuma kita yang gagal.

Tapi sekarang kita yang harus sama-sama bersiap, menjalankan, dan melakukan apapun yang kita bisa. Demi seisi dunia. Let’s do our part.


Tautan Berguna

Indonesia

Regional

Internasional


Bacaan tambahan

  • Yang ingin mencoba memahami secara lebih menyeluruh (bahasanya sedikit abstrak), saya rekomendasikan artikel ini oleh Jordan Greenhall.
  • Artikel ini mencoba merefleksikan apa yang tengah terjadi dan respons emosional kita sebagai warga dunia.
  • Artikel ini juga memberi perspektif yang cukup seimbang dari sisi telaah politik.

Also published on Medium.

One Reply to “Virus Corona: Dari Seorang Warga Awam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *